Tuesday, 10 May 2016



Catatan ini awalnya ditulis di sebuah kampung terpencil di pedalaman Kalimantan Barat. Bukan karena saya memiliki segalanya sehingga selalu bisa berkeliling negeri tercinta sekaligus memiliki banyak koyak ini, tetapi justru sebaliknya. Semua perjalanan dalam sepuluh tahun terakhir ini semata karena banyak orang memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk berkarya, untuk mengabarkan, dan lebih jauh lagi sebuah amanat untuk menjadi lebih bermanfaat untuk kehidupan banyak orang, juga untuk beribadah.

Saya percaya, bahwa banyak pihak yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi perairan baik itu perairan tawar (sungai dan danau) maupun laut yang ada di negeri ini. Namun sepertinya orang-orang seperti ini jumlahnya tidak banyak dan cenderung ‘kesepian’ dan tidak memiliki kemampuan sangat besar menyuarakan aspirasi, dan apalagi mengkonversi kegelisahan  yang mereka alami dengan tindakan-tindakan nyata. Ini bukan salah mereka, hanya saja jaman yang memang sepertinya terlalu dikuasai oleh kerakusan, sikap pragmatis, juga sikap kurang peduli. Manusia sepertinya terlalu dikuasai oleh ambisi dan keakuan yang luar biasa sehingga kurang ‘melihat’ sekitarnya dengan lebih tenang dan bijaksana. Beberapa dari sedikit yang peduli ini memang mampu melakukan tindakan-tindakan nyata yang inspiratif untuk menyuarakan kegelisahan mereka saat ini. Ada beberapa figur yang menurut saya pantas untuk disebutkan tetapi semoga Anda semua juga mengenalnya karena beberapa tindakannya menurut saya merupakan bentuk kepedulian dengan efek masif. Sebagian lagi tidak mampu berbuat banyak karena terbentur oleh berbagai hal mendasar pemenuhan kehidupan yang semakin kompleks, ini juga bukan salah mereka sebab memang sudah semestinya demikian, prioritas pada yang primer dan sekunder.  Sekarang ini Puji Tuhan, seorang perempuan yang menjabat sebagai menteri perikanan dan kelautan Indonesia menurut saya cukup inspiratif dan lantang dalam ‘membela’ perairan Indonesia. Suaranya yang lantang tersebut selalu mewarnai kebijakan-kebijakannya yang tidak populer demi menjaga perairan dan segala potensinya agar dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia dan generasi penerusnya, utamanya berkaitan dengan spesies bernama “ikan”. Meskipun jika kita lihat usaha mulianya ini tidak mudah karena banyak pihak di negeri ini yang telah 'terbeli' oleh kekuatan asing juga ketamakan mencoba menghadang upaya-upaya mulia perempuan ini.

Tetapi saya juga percaya bahwa banyak juga orang yang abai dengan apapun kondisi perairan yang ada di Indonesia ini. Banyak orang yang mengeksploitasi perairan kita hanya memikirkan volume dan profit yang melimpah, tanpa ada kontribusi apapun terhadap perairan. Banyak orang sangat acuh dan menganggap perairan Indonesia tidak penting untuk dipikirkan (padahal nyatanya sangat jarang orang tidak menyukai lauk pauk berupa ikan). Banyak orang lagi karena tergoda oleh hasil melimpah tetapi dengan cara dan waktu kerja yang singkat, terus mengesploitasi perairan dengan ‘rakus’ seakan-akan mereka, mentang-mentang diciptakan sebagai manusia, memiliki semua yang ada di dalam air. Abai pada tanggung jawab bahwa perairan dan juga isinya, yang sejatinya adalah titipan yang harus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Orang-orang yang seperti ini bisa berasal dari berbagai kalangan, dan bahkan dari kalangan sportfishing di Indonesia sendiri. Bahkan sialnya berdasarkan pengamatan saya sendiri di media sosial juga di lapangan di berbagai daerah, ada banyak pemancing sport yang memiliki mental “rakus” melampaui para nelayan. Selalu menginginkan hasil memancing yang banyak, tetapi tidak pernah berkontribusi apapun terhadap perairan. Sialnya lagi, jika hasil memancingnya kurang baik kemudian mengeluarkan sumpah serapah semaunya. Alih-alih prihatin dan kemudian mulai tergerak hatinya untuk lebih peduli, lebih membuka hati, tentang apa yang sebenarnya terjadi di perairan Indonesia saat ini.

Saya telah lama ‘berkonforontasi’ dengan orang-orang seperti ini yang juga beberapa di antaranya adalah rekan-rekan memancing saya sendiri. Tidak usah berkaitan dengan tindakan berbahaya melawan para pelaku setrum, racun dan bom ikan, melakukan tindakan catch and release terhadap spesies ikan yang mulai langka saja mereka sangat sulit melakukannya. Apalagi menerapkan konsep bag limit terhadap ikan yang dibawa pulang? Bag limit adalah etika untuk membawa ikan pancingan secukupnya saja berdasarkan kemampuan konsumsi sendiri atau maksimal satu keluarga yang dia miliki. Yang ada di Indonesia, bag limit yang diterapkan adalah bag limit KW 10, yakni membawa ikan sebanyak mungkin untuk disimpan selama satu minggu atau satu bulan di dalam mesin freezer dan atau untuk dibagikan ke seluruh RT dengan alasan sosial. Oh my God! Yang menarik dari fenomena bag limit untuk satu RT ini adalah, ketika banyak orang menghimbau untuk lebih arif dalam membawa jumlah ikan yang dibawa pulang, jawaban mereka lebih ‘nyaring’. Kapal gue sendiri, duit gue sendiri, bensin gue sendiri, suka-suka gue dong mau bawa pulang ikan seberapapun banyaknya?! Inilah fenomena yang banyak terjadi di Indonesia dan sialnya lagi banyak yang mendukungnya dengan berbagai alasan! Oh ya hampir lupa, ada juga yang mengambil jalan paling aman terhadap polemik catch and release dan bag limit ini dengan,”Kalau urusan itu sih terserah suka-suka orang itu sendiri deh, gue gak mau campurin!” Ucap orang-orang seperti ini sambil terus memancing di jalur ‘aman’. Hehehehe! Intinya memang tidak banyak orang yang suka meniti jalan terjal dan berliku, apalagi terkait hobi di perairan bernama sportfishing ini. Sejujurnya saya juga sedang belajar untuk menjadi lebih arif dalam menekuni hobi ini. Perjalanan memancing saya masih terhitung ‘kemarin sore’ dibandingkan dengan banyak orang lainnya, tetapi sudah sejak lama saya telah memutuskan untuk lebih memiliki respect, terhadap perairan dan segala potensinya, terhadap masyarakat, dan juga terhadap sisa nafas saya.

Kegelisahan tentang kondisi perairan di negeri ini semakin memuncak setelah bulan lalu saya berada di sebuah daerah di Sulawesi Tengah. Sebuah desa pesisir menjadi basecamp kegiatan kami selama delapan hari. Selama ini, di sela-sela menyelesaikan tugas, interaksi dengan masyarakat yang biasanya meninggalkan kesan yang menyenangkan dengan banyaknya pengetahuan dan keluarga baru, yang terjadi di Sulawesi Tengah saat itu justru sebaliknya. Ada kecewa yang sangat ketika kita melihat di depan mata, begitu banyak orang tertawa dan bangga dengan aktifitas penangkapan ikan tidak ramah lingkungan yang mereka lakukan dalam kehidupan mereka selama ini. Bahwa menceritakan kegiatan mengebom ikan, meracun dan menyetrum ikan itu seperti sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan, hingga ketika mereka kemudian menceritakannya kembali, seperti ada kesan ingin memamerkan sebuah prestasi tertentu. Apalagi jika sudah menyebut hasil yang didapatkan dengan cara ‘biadab’ tersebut, mereka seperti pernah meraih sebuah pencapaian penting dalam laku hidup memanfaatkan potensi perairan yang ada di sekitar mereka. Entahlah, tetapi saya sungguh tidak percaya, jika di dunia modern seperti sekarang dengan begitu banyaknya arus informasi, masih ada yang tidak mengerti bahwa ketiga kegiatan di atas adalah “pembantaian” terhadap spesies perairan dan sekaligus kebiadaban, karena menghancurkan kemungkinan generasi penerus menikmati berkah perairan yang ada. Kita ambil contoh tentang perairan dangkal di kawasan pesisir misalnya, kegiatan mengebom ikan praktis menghancurkan rumah-rumah ikan, bukan hanya untuk satu atau dua tahun ke depan, tetapi bisa jadi malah untuk selamanya. Mereka ini tidak hanya ingin mendapatkan semua ikan yang ada di lokasi tersebut, termasuk juga ingin menghancurkan semua potensi yang ada. Padahal andaikan potensi tersebut ‘dipetik’ dengan cara yang berkelanjutan (sustainable), hasilnya tidak akan pernah habis. Tetapi itulah kelemahan manusia, begitu mudah diruntuhkan imannya oleh godaan ketamakan dan kenikmatan sesaat. Saya tahu bahwa manusia perlu makan, dan kebutuhan lainnya melalui hasil mereka bekerja. Tetapi bukankah begitu banyak pilihan? Kenapa begitu banyak orang hanya ingin melalui jalan pintas saja? Cepat kaya dengan korupsi dan lain sebagainya, cepat menghasilkan uang dengan bertindak kriminal dan lain sebagainya. Ingin hasil ikan yang banyak dengan bom ikan racun dan setrum?! Ingin lulus dengan hasil baik dengan ‘membeli’ skripsi, dan lain sebagainya. Ingin cepat naik jabatan dengan menjilat atasan dan ‘melacurkan’ diri?!

Wild Water Indonesia dari awalnya digagas sebagai sebuah sikap ataupun perilaku sederhana, keterbaruan pemikiran dari sebuah usaha kecil-kecilan bernama Batanta Popper yang mengkhususkan pada pembuatan umpan popping dengan target ikan-ikan Giant trevally. Wild Water Indonesia ini mungkin hanyalah sebuah nothing atau bisa jadi sebuah something. Atau bisa jadi merupakan koreksi pada diri saya sendiri yang mungkin pernah melakukan kesalahan di masa lalu terkait hobi memancing saya. Apapun itu, Wild Water Indonesia dimaksudkan wewujud pada tindakan-tindakan nyata yang mungkin bermanfaat untuk kehidupan sebanyak mungkin orang, meskipun itu dilakukan melalui cara-cara sederhana dan langkah-langkah kecil yang sangat mungkin tertatih akibat keterbatasan diri saya sendiri yang juga masih harus ‘mengais’ hidup. Syukur-syukur, hasrat untuk memberi tambahan nilai pada hobi memancing ini bisa menular ke khalayak yang lebih luas lagi. Karena menurut saya, masa iya keinginan pada sebuah kebahagiaan itu selalu harus mewujud pada bentuk-bentuk kesenangan semata, bukankah menjadi lebih peduli juga malah bisa memberi kita kebahagiaan yang lebih banyak lagi?! Dalam konteks sportfishing, apakah iya kita sebagai pemancing itu hanya bisa melulu memikirkan kesenangan semata tanpa peduli lingkungan tempat kita ‘bermain’ tersebut? Bentuk-bentuk kesenangan itu antara lain banyaknya sambaran dari ikan target, perjalanan ke lokasi memancing yang indah, ikan-ikan yang besar dan banyak, atau ikan-ikan bergengsi yang semakin sulit didapatkan, berkumpul bersama sesama pehobi, memancing untuk ‘menghindari’ berbagai hal, dan lain sebagainya? Apa iya kita dengan segala berkah yang kita miliki sehingga bisa menekuni hobi memancing (yang katanya mahal ini), hanya akan menumpahkannya dalam bentuk yang menyenangkan saja? Di sisi lain, perairan tawar dan laut terus menerus tertekan dengan semakin banyaknya polutan, tingginya tekanan populasi ikan akibat overfisihing, dan yang lebih parah adalah cara tangkap ikan yang sangat merusak (setrum, racun, dan bom ikan). Belum lagi jika kita mengingat kegiatan ilegal fishing yang untungya kini begitu getol diperangi oleh pemerintah kita saat ini?! Dan Banyak lagi perubahan pada ekosistem perairan yang terjadi oleh berbagai faktor lainnya.

Kaos Wild Water Indonesia (WWI): Stop Setrum, Racun, Bom Ikan adalah pernyataan paling keras pertama yang saya lakukan sebagai pemancing dalam rangka untuk lebih peduli, dan tidak mengejar kesenangan semata. Kaos ini, sama seperti dua seri kaos WWI sebelumnya tidak dimaksudkan sebagai sebuah lahan usaha untuk mendapatkan keuntungan (berdagang), tetapi lebih untuk menjalin silaturahmi dengan individu-individu lain yang memiliki kegelisahan yang sama. Memang dalam rangka menyebarkannya mau tidak mau harus meniru cara yang mungkin terkesan pragmatis atau biasa. Ini semata karena keterbatasan saya pribadi yang tidak memiliki banyak uang untuk menyebarkan kaos ini secara gratis dengan menanggung semuanya baik itu ongkos design, produksi, dan pengirimannya. Oleh karenanya saya kemudian memanfaatkan media sosial untuk menjaring kegelisahan yang sama tersebut. Respon yang saya terima sungguh mengharukan, ternyata saya tidak sendiri. Sejak awal saya juga sudah menegaskan kepada siapapun yang menginginkan kaos iseng ini, konteksnya tidak membeli, tetapi menyumbang. Berapapun yang mereka kirimkan ke rekening saya, murni untuk menanggung ongkos produksi kegelisahan yang sama tersebut. Syukur-syukur kemudian ada lebih dari itu semua, sepertinya akan begitu, karena melalui jalur pribadi banyak pihak yang mengatakan akan berkontribusi dengan nilai yang lebih banyak dari yang saya tuliskan, maka kelebihan itu kemudian akan saya alihkan pada langkah-langkah kecil berikutnya. Tentunya langkah-langkah kecil tersebut akan saya lakukan pada waktu dan tempat yang semestinya, dan bisa jadi tidak dalam waktu dekat ini, lagi-lagi karena keterbatasan saya sendiri yang juga harus berjibaku mencari penghidupan. Kapanpun itu, langkah kecil berikutnya tersebut akan saya ‘laporkan’ kembali melalui ranah media sosial sehingga semua pihak dapat melihatnya secara langsung.

Seseorang pernah berkata, jika kita tidak bisa berlari, maka cobalah untuk berjalan. Apapun makna dari sebuah kaos iseng Stop Setrum, Racun, dan Bom Ikan ini, apapun resiko dan tantangan yang kemudian akan menghinggapinya ketika kita memakainya nanti, saya ingin mengucapkan beribu terimakasih karena rekan-rekan semua telah menjadi bagian kegelisahan ini. Beberapa dari kalian pernah melakukan sesuatu bersama-sama dengan saya di daerah masing-masing sebagai sahabat, sebagian lagi belum pernah saya kenal secara langsung. Hari ini ketika saya kembali ke kota Pontianak, setelah sepuluh hari di pedalaman dan kemudian kembali bersentuhan dengan ‘dunia’ ramai yang berbeda, hampir seratus orang telah menyatakan diri menjadi bagian dari kegelisahan terhadap ekosistem perairan negeri tercinta ini. Semoga langkah-langkah kecil yang kita lakukan di daerah kita masing-masing, saya berharap bisa ada disana dan melakukannya bersama-sama, meski itu bisa jadi dalam kesendirian (karena memang pernyataan selugas seperti kaos iseng ini bukan sesuatu yang populer di ranah sportfishing sebagai sebuah hobi dan juga kehidupan sehari-hari kita yang bisa jadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan yang namanya “kampanye terhadap ekosistem perairan”), bisa ikut menyumbang pada terciptanya masa depan perairan Indonesia yang lebih baik. Kontribusi dokumentasi langkah kecil melalui kaos ini sangat saya harapkan, sementara nantinya akan saya tampung di album SMALL THING CAN MAKE BIG DIFFERENCE di laman Facebook saya. Dan jika ada waktu akan saya rangkum juga dalam bentuk tulisan sederhana di website gratisan ini. Semoga ikan-ikan membalasnya, mungkin tidak untuk saat ini, tetapi untuk anak cucu kita nanti. Sekali lagi terimakasih banyak, dan salam untuk semuanya! (Laman Peruya, Kalimantan Barat, Mei 2016)




 















* Pictures by Me. Another shot by Wijayadi, Budhi K, and Patricia R. No watermark on the pictures, but please don't use or reproduce (especially for commercial purposes) without my permission. Don't make money with my pictures without respect!!!

0 comments:

Popular Posts

Google+ Followers